
Membaca karya-karya Kang Abik (
Habiburrahman El Shirazy), tidak bisa tidak untuk tidak meneteskan air mata. Secara umum, dan bisa dibilang kesemuanya, karya-karya Kang Abik adalah tulisan dengan gaya bertutur yang sederhana, dan sama sekali tidak
njlimet dengan berbagai macam permainan kata seperti layaknya karya-karya tulisan kontemporer yang lain.
Walau memang saya akui, sejak dulu saya adalah tipe lelaki yang bisa menangis, tapi saya memang cukup di buat heran dengan novel-novel Kang Abik. Setiap bagian, setiap titik-titik cerita dalam novelnya, seperti menghipnotis saya untuk tak henti-hentinya menangis. Akhirnya jadilah saya kalau baca novel-novel Kang Abik, saya akan cari tempat yang aman, yang memberikan saya privasi yang cukup buat menumpahkan segala emosi dan ikut larut dalam haru-biru lelehan air mata.
Ngomong-ngomong soal nangis, sejak dulu saya tidak pernah sependapat dengan The Cure, yang katanya Boys Don`t Cry. Tak ada alasan yang buat lelaki untuk tidak boleh nangis, dan saya tidak pernah merasa lemah saat saya tumpahkan segala kelelahan dalam derai air mata.
Bagi saya, tangisan adalah kekuatan. Dan kuat bukan tentang nangis atau tidak, tetapi kuat adalah tentang bagaimana kita tidak menyerah. Tegar bukanlah melarikan diri dari masalah dengan alkohol, rokok, pesta atau pun kegilaan. Tegar adalah tentang tetap sanggup untuk bertahan, dengan secuil sisa tenaga, untuk terus hidup, dan tak ada yang nampak memalukan dengan tangisan.
Yang lebih melegakan, dengan adanya novel-novel Kang Abik, saya jadi merasa lebih pede untuk nangis kalau sedang ingin nangis. Banyak pembaca lain yang bernasib sama dengan saya, mata selalu basah saat menikmati novel-novel Kang Abik. Jadi, Boys Must Cry...
|
Lelah,
musim sakit, dan akhirnya pun saya tidak bisa menghindar. Tubuh ada ambang batasnya juga. Tapi ada satu hal yang selalu saya syukuri dari setiap sakit menyapa dan memeluk tubuh ringkih ini : merasa dekat dengan Sang Kekasih.
Mungkin memang salah juga menghubung-hubungkan sesuatu dengan sesuatu yang seolah-olah tidak cukup rasional, tapi saya tidak bisa memungkiri bahwa saya merasa Dia sedang sekedar mengecup kening kita, agar kita tidak sepenuhnya lupa, bahwa ada Kekasih dari terpaling cinta kekasih di dunia yang kita miliki, bahwa Sang Kekasih-lah yang kasih-Nya takan pernah habis.
Ya, saya bisa lebih khusyuk shalat, bisa lebih khusyuk mengais sisa kepenatan mata untuk membaca Ayat-Ayat Suci-Nya, saya bisa lebih ikhlas menyisipkan selarik senyum saat berjumpa saudara, dan saya jadi merasa bersyukur atas kehidupan yang telah di berikan-Nya. Jika saya sakit.
Semoga saja, hati ini tidaklah terlalu sibuk untuk selalu larut dalam kasih dan cinta dengan kekasih terkasih di dunia, semoga selalu ada ruang dalam hati ini untuk mengaitkan rasa kepada Sang Kekasih. Amiin.
|
Sore itu begitu indah. Musim hujan meninggalkan bekas semilir sejuk bumi, meniup manja melalui jendela kamar yang terbuka setengah. Sungguh menggelikan, romantis dan juga seksi, seperti tiupan manja pacar saat membisikan ucap sayang di daun telinga kita.
Adam membalikan tubuhnya, dan disampingnya, indah tubuh seorang perempuan damai terlelap menikmati nyaman udara sore itu. Dialah Maria, kekasihnya yang begitu dia sayangi. Perlahan dan dengan penuh rasa sayang yang serasa memenuhi seluruh hatinya, dengan pandangan sayu matanya menyusuri tubuh kekasihnya itu dari raut wajahnya yang ayu, hingga ke sepasang kaki kurus yang indah. Sungguh cantik. Tak ada anugerah yang lebih indah dari seorang Maria. Lalu dengan hati yang seolah akan meledak oleh cinta, dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Maria dan memeluknya erat sekali. Tubuh Maria hanya berbalut selembar gaun tidur yang teramat tipis, lalu secuil celana dalam dan bra. Kulit putih lembutnya sungguh menawan. Dengan sepasang buah dada yang kecil tapi lembut, membuat tubuh kekasihnya bagai bidadari surga yang ada dalam cerita Pak Ustad semasa kecilnya. Sementara dirinya sendiri telanjang dada dengan hanya mengenakan celana pendek di atas lutut. Saat kulit dan tubuh mereka menyatu, yang ada adalah perasaan yang sama sekali tak terjelaskan. Antara mata yang berat oleh air mata yang tertahan, dan hasrat sensual yang mengalir di tiap pembuluh darah. Antara rasa bahagia yang seakan meledakan jantung dari dalam, dengan ketegangan sensual yang memuncak mereda. Antara haru dan nafsu. Surga dunia, mungkin itulah satu-satunya frasa yang cocok untuk menggambarkannya.
Sekecap kecup sayang dia tempelkan di bahu kekasihnya yang mungil itu, dengan sangat khusyuk, seperti khusyuknya kecupan pasrah sujud Shalat Malam. I Love You Maria. Segurat senyum tipis melengkung indah di bibir tipis Maria. Dalam damai lelapnya, dia bisa merasakan kekasihnya sedang memeluknya penuh rasa cinta.
Wangi aroma tanah di musim hujan menyeruak indah perlahan menyelinap ke dalam kamar berukuran 3x3 m itu. Rupanya gerimis turun lagi. Sungguh tak ada yang bisa dipikirkan oleh Adam saat itu. Semakin dia tenggelam dalam perasaan cintanya, semakin dunia ini terasa begitu menghanyutkan baginya. Adam tak mampu menahan gejolak hatinya lagi. Perlahan dia tidak mampu lagi membendung serpihan-serpihan indah dari matanya yang berkaca-kaca. Dia tidak sanggup menahan semuanya. Dia tidak tahu apa maksud Tuhan sebenarnya. Kenapa Maria? Kenapa kamu harus mengatakan semuanya? Kamu tahu, kamu adalah segalanya bagiku. Tak ada yang lebih aku butuhkan selain kamu saat ini. Tetapi kenapa kamu harus menjelaskan semuanya. Semua cerita jujur kamu, mengalir dan seperti anggur yang mencampuri nikmatnya susu cinta kita. Kenapa? Kenapa Tuhan? Apa maksud semua ini?
Masih terngiang dengan sangat jelas semua perkataan kekasihnya Maria seminggu yang lalu. Saat itu, di tempat yang sama, di ranjang yang sama yang sedang di pakai mereka berdua saat ini, Maria menjelaskan semuanya. Sebuah kejutan. Sebuah malapetaka. Dan mungkin sebuah misteri yang teramat besar, yang semakin memancing emosi pernasaran Adam akan Tuhan. Tuhan Sang Pemberi Kasih.
"Adam, kita sudah menjalani hubungan ini hampir 3 tahun. Ada sesuatu yang dari awal sebenarnya udah sangat membebani diriku. Dan aku harus mengatakannya padamu Adam. Dan aku rasa, saat ini sudah tepat" Kata Maria sambil menyandarkan kepalanya di pangkuan Adam. Wangi lembut dari rambut hitam panjang lembut miliknya sepintas menyadarkan Adam, betapa selalu terpesonanya dia dengan kekasihnya itu.
"Ya sayang, katakan saja semuanya, aku akan mendengarnya dengan sepenuh hati" Timpal Adam sambil membelai rambut kekasihnya itu dengan penuh rasa sayang yang membuncah dan hampir meledakan jantung hatinya.
"Tapi kamu janji ya sayang, kamu harus tetap mencintai aku!" Pinta Maria sambil memalingkan wajahnya dan memandang mata Adam lekat dan penuh iba.
"Iya sayang, apa sich yang bisa mengalihkan rasa cintaku sama kamu?" Adam menimpali sambil membalas tatapan kekasihnya itu dengan senyuman dan kecupan di tangan.
"Sebenarnya, aku.." Tiba-tiba tenggorokan Maria seperti terasa tercekik, dia nampak kesulitan untuk mengeluarkannya. Lalu dia melanjutkan "Sebenarnya Adam, aku.. aku mau mengakui sesuatu. Ini tentang aku. Sebenarnya, aku itu sudah tidak virgin lagi...." Kelihatan sekali Maria begitu sulit mengeluarkannya.
"aa.. apa sayang? Kamu, kkk kamu, udah nggak virgin" Mendadak rasa bingung dan tidak percaya begitu sakit menusuk ke pusat jantung hari Adam.
"Iya..."
"Tapi, bagaimana bisa? Sayang, kamu pasti bercanda.."
"Iya sayang, aku serius. Aku udah nggak virgin lagi. Itu terjadi dengan dua mantan aku sebelumnya. Aku nggak tau kenapa waktu itu aku mau melakukannya, tapi aku menyesal"
"................" Adam hanya terpaku. Dunia sekitar terasa gelap sekarang baginya. Dadanya terasa akan meledak. Harga dirinya sebagai lelaki, kepercayaannya tentang nilai-nilai susila yang didapat dari buku-buku agama, dan rasa cintanya seakan tercampur teraduk seperti buah-buahan yang masuk dalam blender : lebur menjadi satu tanpa bentuk.
Sejak saat itu Adam tidak tau lagi mengapa dan untuk apa dia mencintai Maria kekasihnya itu. Baginya, Maria adalah seorang peri, malaikat, yang begitu sempurna baginya. Maria itu begitu baik, ramah, dewasa, dan begitu cerdiknya menciptakan suasana-suasana manja yang membuatnya hanyut mabuk oleh percintaan. Maria tidak pernah menuntut banyak hal selama mereka berpacaran. Dan pengakuan Maria itu, seperti sebuah daging busuk yang begitu saja dicampurkan ke dalam sup cinta yang amat nikmat milik mereka berdua. Pengakuan Maria itu, bagai seonggok kotoran bau yang tiba-tiba dicemplungkan ke dalam bak mandi cinta yang penuh dengan air kasih yang suci dan jernih. Dia masih tidak percaya. Dan semenjak itu juga Adam merasa begitu kosong. Jalinan kasihnya selama hampir 3 tahun dengan Maria. Bagaimana dia sangat menyayangi Maria. Bagaimana dia sangat bahagia bila kekasihnya itu menyandarkan tubuh kurusnya di dekapannya. Dan bagaimana cumbuan-cumbuan mesra yang agak nakal yang sering mereka lakukan di dalam kamar kotst Adam. Semuanya tiba-tiba muncul, dan seperti di tabrakan dengan keras dengan pengakuan Maria itu. Hancur berkeping-keping. Maria, sudah tidak virgin. Dan dia sudah melakukannya dengan dua orang lelaki. Kesucian itu. Keindahan itu, telah terenggut. Semuanya begitu mengganggu dan mencengkeram pikirannya dengan menakutkan layaknya film horor.
Maria, aku sangat menyayangimu. Sekali lagi, air mata yang keluar dari sepasang mata seorang lelaki meleleh syahdu. Seperti tetes mata air kecil di bebatuan alam di musim hujan. Adam kosong. Dia teramat sayang pada kekasihnya Maria, dan dia tidak pernah rela kekasihnya itu pergi dari pelukan cintanya. Tapi kenyataan itu, pengakuan itu telah memusnahkan semua cahaya logika di kepalanya. Adam limbung, limbung selimbung limbungnya. Sebagai seorang Jawa tulen, dengan latar ajaran Islam, yang walau sudah jarang dia taati, masih sangat kuat mencengkeram kekuatan bawah sadar pemikiran Adam. Kesucian, keperawanan, virginitas, adalah mutlak bagi seorang perempuan. Bahkan, saat gaya berpacaran dia dengan Maria, yang mungkin hampir bisa disebut kumpul kebo oleh orang Jawa, tidak mengusik sedikit pun keyakinan bawah sadar pikirannya bahwa perempuan haruslah perawan sebelum menikah.
Mengenai gaya berpacarannya itu, dia selalu berdalih dalam hatinya, walau dia sangat sering membawa Maria menginap satu ranjang di kamar kostnya, dia merasa mampu menjaga hasratnya sendiri untuk melakukan yang "itu". Dia sering dengan bangganya memuji diri sendiri dalam hati, betapa jantannya dia, karena rasa sayang yang teramat besar hingga dia tidak tega menyentuh wilayah paling suci bagi perempuan milik kekasihnya. Dia sangat bangga, walau ciuman dan cumbuan yang memabuk-kepayangkan, sering dia lakukan dengan Maria, dia masih dan akan selalu sanggup untuk tidak melakukan "itu".
Maria....... Kenapa kamu harus mengakui semua itu? Kenapa? Semuanya akan lebih baik andai kamu tidak mengatakannya. Mariaaaaaaaaaaaaaa...!! Dalam lamunannya Adam berteriak histeris, dan lagi-lagi matanya tak sanggup untuk menahan deraian pilu air mata yang terasa asin bila terus menetes dan terkecap lidah.
Selamat! Anda telah menikmati secuil potongan novel yang akan aku terbitkan (semoga saja) beberapa waktu mendatang (mungkin tidak sampai dua tahun dari sekarang). Selamat menikmati. Dan jangan salah tafsir!. Komentarnya selalu aku tunggu!
|
Anjing : kasian sekali mahluk Tuhan ini. Selalu jadi bahan umpatan. Bahkan karakter busuk, pembual, penjahat, tidak bermoral, semuanya di nisbat-kan kepada mahluk ini. Padahal, tak bisa dipungkiri sedikitpun : dog is the best human friend...
Entahlah : kapan, siapa dan kenapa nama mahluk cantik ini jadi kosakata mutlak untuk menyumpah aku sama sekali tidak tau. Dan aku disini mau minta maaf kepada mahluk luar biasa ini, karena aku jadikan judul tulisan mbuh kali ini.
Anjing
"anjing...!!"
"kenapa..?"
"cewek itu sexy sekali.."
Apa? Perempuan sama dengan anjing?
"hei hei, aku tak tau maksudmu, kenapa perempuan cantik, dan menawan itu kau panggil anjing?"
"hei pak ustad, aku nggak bilang itu"
"loh?"
"aku cuman seneng aja liat tubuh aduhai cewe yang barusan lewat"
"lalu kamu tumpahkan dengan ungkapan anjing?"
"refleks.."
Astaghfirullah...
Memang benar, perempuan yang baru saja lewat--yang sepertinya seorang mahasiswi--sangat menawan. Tubuh ramping--hampir mendekati kurus--, rambut lurus sebahu, dada sedang, kulit putih lembut, pandangan mata yang agak misterius, dan yang paling mencengangkan, dia memakai blus ketat, dengan dua kancing bagian atas terbuka sehingga kulit sekitar dada dengan indahnya terpampang. Memang, mungkin perempuan seperti itu yang disebut sexy. Tapi kenapa rekanku itu harus mengatakan mahluk secantik dan seindah itu disamakan dengan anjing. Aku tidak mengerti dengan pola pikir kawanku yang ini.
"hei.."
"apa, apa?"
"menurutmu, gadis yang baru saja lewat, sudah punya pacar apa belum?"
"apa?"
"ya, pacar!"
"emang peduli.."
"kok?"
"aku cuma horny liat tubuhnya"
"lalu?"
"yaudah!"
"bukan, maksudku cuma itu pernyataanmu? maksudku, kamu nggak mau nilai sisi lain gadis yang barusan lewat?"
"aku tidak mau pusing"
aku mulai makin bingung.
"gini coba, seandainya dia ternyata belum punya pacar, kamu mau nggak jadi pacar gadis yang barusan?"
"hahahaha, jelas mau dunk..., tapi.."
"tapi?"
"aku nggak mau nikah dengan cewe seperti itu..!!"
"kok?"
"ya, mana mungkin. Dan kamu, jangan sebut cewe itu gadis, itu gelar yang meragukan.."
"he, kamu tu ngomong apa sih, aku tu nggak paham!!"
Lama-lama aku muak juga dengan rekanku ini.
"gini loh : gadis, eh maksudku cewe dengan style seperti itu, pasti cocok buat pacaran, buat senang-senang, pesta, dan mungkin (sekali) bisa dapet sex. Tetapi aku yakin, cewe seperti tidak cocok kalau aku jadikan istri untuk berumah tangga. Kita tau kan kehidupan rumah tangga itu tidak semudah bayangan kita. Kita harus berjuang membangun rumah tangga, perekonomian dan lain-lainnya, dan cewe seperti itu mana mau aku ajak hidup sederhana untuk berjuang demi kehidupan rumah tangga yang lebih baik"
Mmmh. Maksud akal juga.
"lalu, yang cocok untuk dijadikan istri?"
"ya yang sederhana, terutama dari karakter. Dewasa, sederhana, baik dan perempuan baik-baik"
Aku jadi ingat, ada pepatah barat mengatakan : jangan liat buku dari sampulnya, jangan liat seseorang dari tampilan luar saja.
"jadi gimana, kamu mau?"
"mau, senang-senang, dapet semuanya, habis itu cari yang lain untuk aku jadikan istri"
"aku nggak yakin dengan penilaianmu"
(dengan berbisik rekanku bicara lekat di dekat daun telingaku)
"eh, tau nggak, kemarin aku habis 'main-main' dengan ceweku"
"main-main?"
"itu tu..."
"maksudmu, sex?"
"jangan keras-keras tolol!"
Anjing! Rekanku memang pembual, tapi aku tau, pacar rekanku itu memang style-ya tak jauh beda dengan gadis yang barusan lewat : menggoda. Kaos ketat, celana pendek, dan sering juga aku sempat liat belahan dadanya saat memakai blus terbuka seperti gadis barusan.
Oh, Tuhan. Aku tak tau dari mana aku harus menilai perempuan. Tapi setidaknya, aku tidak akan pernah mengijinkan istriku kelak, keluar rumah dengan pakaian yang kelewat terbuka.
Dan seandainya aku mendapat perempuan sexy seperti tadi, semoga saja dia mengerti, aku risih liat perempuan dengan style yang kelewat terbuka, dan walau mungkin tidak mudah, aku harap aku bisa ajak dia untuk berpakaian lebih sopan.
Kulihat jam,
21 : 36 ?
Anjing!! Aku udah dua jam lebih di warnet... Ups..!!
|

Lama tak tersentuh, bukan tanpa alasan : seriak alir kisah telah berlalu. Merah tabur wangi bunga telah jauh tertelan riak sungai, aromanya telah lama musnah dari pondok jiwaku. Dan jika tempat ini adalah album tempat dokumentasi, ternyata terlalu sayang jika sisa lembar plastik bersihnya tak lagi tertempel guratan citra seciprat madu kehidupan : manis dan enak, untuk dikenang, untuk dikecap, walau hanya melalui sekotak layar komputer yang berkedip tanpa lelah.
Biarlah, pastilah tak semua bunga menghasilkan tunas baru. Setidaknya aku tak pernah lupa untuk bersyukur, bahwa harum indah melati pernah singgah dan mengusir pengap sekotak nyawa hidupku. Kubuka selimut, dingin, tapi aku tak pernah ragu. Dinginnya alir sungai hidup, tak sepadan dengan harumnya serpih lembar bunga yang terbawa arus. Dan aku yakin, suatu saat, seuntai tunas indah akan abadi mengisi kotak ruang kasih yang ada di gumpal detak jantung hati jiwaku. Dan akan selalu sama : wangi, indah, mekar. Kehidupan. Cinta.
|