About Aishiteru
09.14 | Author:



Aishiteru adalah kosakata dari bahasa Jepang yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “aku cinta padamu”. Pada awalnya, blog ini di buat sebagai “persembahan” untuk seseorang yang istimewa dalam hidup sipembuat aishiteru, yang saat ini telah menjadi sekedar kenangan masa lalu, yang bila di ingat, tak lebih menarik dari serial cerpen cinta dalam majalah-majalah remaja masa kini.



Walaupun makna aishiteru lebih kepada ungkapan perasaan sesama manusia, tetapi aishiteru di sini mengalami perluasan makna menjadi ungkapan cinta untuk Tuhan, dan untuk semua mahluk Tuhan yang selalu memberi pelajaran berharga tentang hidup dan berbagi.


Di Balik Aishiteru


Adalah seorang aneh yang lahir pada hari kamis, 16 April, tahun 1987 yang silam. Terlahir dari rahim seorang wanita luar biasa, dan besar di tengah keluarga muslim yang sangat konservatif. Masa kecil terlewati begitu saja tanpa banyak sahabat manusia. Kucing adalah sahabat paling dekat sekaligus tempat curhat satu-satunya. Orang dewasa yang selalu menjadi teladan saat itu adalah sang kakek, yang walaupun generasi “paling tua”, yang sempat mengikuti perang kemerdekaan begitu lama, yang bahkan tidak punya KTP, tetapi mempunyai pemikiran yang “sangat modern”. Sedangkan sang bapak, yang semestinya menjadi teladan paling dekat, justru tampak sebagai “penjahat psikologis”. Seorang yang benar-benar telah membunuh mental sang anak dan menjadi cacat seumur-hidup. Sedang sang ibu, selalu menjadi super woman yang tak akan pernah tergantikan. Tak pernah dalam tiap detik hidup ini, saat mengingat ibu, tanpa menitikan air mata. Ibu adalah malaikat, ibu memang lah jalan ke surga, ibu-lah yang menjadi penguat iman di saat Tuhan terasa begitu jauh dari nalar dan nurani. Ibu adalah segalanya dalam hidup si pembuat aishiteru ini. Ibu-lah yang selalu menyadarkan, bahwa wanita akan selalu menjadi malaikat untuk orang-orang terdekat, dan menyakiti wanita, sama saja dengan menutup salah satu jalan ke surga, jalan untuk bertemu Tuhan.



Masa remaja terjadi begitu saja dengan penuh amarah dan depresi, tanpa tempat bercurah-hati, dan hampir selalu melewati hari dengan pertengaran bapak-anak. Musik metal dan rock-lah yang telah “menyelamatkan” masa remajanya, dan perjalanan hidupnya mencapai puncak akumulasi dinamisasi filosofis dimana saat SMA bergabung dengan perkumpulan Kerohanian Islam, yang memberinya banyak “sisi putih” kehidupan, yang pada akhirnya bisa menjelaskan bahwa hitam adalah putih, dan putih adalah hitam, tak ada kelabu.



Memasuki masa kuliah, si pembuat aishiteru memilih menjadi mahasiswa ekonomi, dengan 100 % murni pertimbangan pragmatis. Fakultas yang paling prestise dan prospektif untuk studi sosial adalah ekonomi.



Perkembangan mutakhir dari si pembuat aishiteru adalah sekarang sedang focused pada konsep-konsep humanisme-filsafat, dan dunia teknis tehnologi informasi, concerned dalam free open source software (FOSS). Born to be a metalhead, live for human beings. Sebuah slogan yang simpel, dan terasa sangat ke-ABG-an sekali, tetapi bekerja untuk kemanusiaan, adalah mimpi paling indah, yang selalu ada dalam doa malam agar Tuhan benar-benar memberi jalan untuk mewujudkannya. Kemanusiaan, kasih, mencintai sesama, mencintai mahluk Tuhan, mencintai bumi, mencintai alam, adalah alasan kita terlahir di dunia. Mencinta sesama, menyebarkan kasih-perdamaian adalah salah satu cara untuk bisa “bercinta” dengan Tuhan.
Tuhan ada dalam setiap inchi wujud kehidupan di alam semesta ini. Karena Tuhan, dan untuk Tuhan-lah kita hidup. Mencinta sesama, mencinta Tuhan, hidup!

Lemahku...
09.14 | Author:
Kenapa? “capek”
Capek? “kuliah”
Kuliah? “ya! Semester akhir yang melelahkan!”
Sama! “oya!”
Ya! “sama ya, aku kira aku sendiri”
Aku pengin semester ini segera berakhir! Aku pengin istirahat! Menghela nafas!
Moga sukses ya!
“sama-sama!”
Oh Tuhan, terimakasih Engkau beri aku tempat bersandar! Walau aku sendiri sudah Engkau anugerahi kaki yang kuat dan tegar untuk terus berdiri! Aku tahu, Engkau selalu di sisiku, dengan semua kasih-Mu….
Beberapa waktu yang lalu ada pameran buku murah. Ada berbagai macam buku : ekonomi, sastra, filsafat, agama, motivasi, dlsb. Pameran itu memang benar-benar murah, untuk ukuran mahasiswa. Bayangkan, kita dapat memperoleh buku-buku yang masih begitu bagus hanya dengan duit 5.000, 20.000 dan 30.000.
Karena uangku mepet, akhirnya aku searching buku di jajaran buku 5 ribu perak. Ada banyak sekali,d an bagus-bagus, aku sampai bingung. Setelah liat sana-sini, perhatianku tertuju pada sebuah cover sederhana bertuliskan Kali Mati : Joni Ariadinata. Aku pernah mendengar judul itu dari guru bahasa Indonesiaku dulu. Dan karena covernya yang menarik, dengan gambar abstrak, langsung saya beli, lima ribu perak!
Pertama aku buka, langsung aku terpana : WOW! Ini adalah karya sastra yang sangat tinggi sekali : aku kagum!
Apa yang kauharap dari berkah bumi keparat yang telah habis tandas digadai buat menebus uang Negara? Kemiskinan. Kesumpekan. Demi demit, kemakmuran telah dirampok dan kini mereka kembali hadir jadi pahlwan. Demi malaikat, kau tak paham seributurunanmu tak bakal merdeka. Hidup akan tetap jadi bui, jadi pecundang tawanan orang yang merasa paling berjasa. Itulah secuplik dari cerpen Keluarga Maling dalam kumpulan cerpen Kali Mati karya Joni Ariadinata itu. Luar biasa. Kalimatnya begitu indah dan bercahaya. Membara. Berapi-api. Menggelitik. Membakar. Sungguh, ini adalah karya sastra yang sangat tinggi sekali.
Keparat, bangsat, babi, asu, tahi, bacin. Kosakata yang dipilih oleh Joni Ariadinata sungguh segar, menyegarkan, provokatif, mencengangkan, namun sangat brilian untuk mencurahkan segala rasa yang perlu untuk dicurahkan.
Sungguh, ini adalah lima ribu rupiah paling mahal. Lima ribu yang sangat berharga.